Eat My Belly “Tentang Makanan, Inscure dan Self Love”

Eat My Belly Novel yang meningatkan kalau kamu berharga

Nourans, pernahkah kalian merasa kurang percaya diri karena bentuk tubuh atau penampilan fisik? Di tengah standar sosial yang sering menuntut kesempurnaan, banyak orang akhirnya tumbuh dengan rasa insecure dan sulit menerima diri sendiri. Perasaan itulah yang diangkat dalam novel Eat My Belly karya Vica Lietha yang diterbitkan oleh Noura Books. Novel ini bukan hanya menghadirkan kisah ringan penuh humor, tetapi juga menyimpan pesan mendalam tentang penerimaan diri, kesehatan, dan perjuangan mencintai tubuh sendiri.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah Karin, seorang perempuan muda yang memiliki hubungan rumit dengan makanan dan rasa percaya dirinya. Karin sangat menyukai berbagai makanan favorit seperti es boba, seblak, sate ayam, hingga nasi padang. Meski sadar kebiasaan tersebut berdampak buruk bagi kesehatan, ia tetap sulit melepaskan kenyamanan dari makanan-makanan itu. Di sisi lain, ia juga harus menghadapi tekanan sosial terhadap bentuk tubuhnya yang gemuk.

Foto penulis novel Eat My belly | Vica Lieta Sumber : https://www.bantenraya.com/

Kehadiran Dokter Raza menjadi warna tersendiri dalam cerita. Sosok dokter yang tegas namun perhatian ini sering mengingatkan Karin tentang pentingnya menjaga pola hidup sehat. Interaksi keduanya menghadirkan banyak momen lucu dan hangat yang membuat cerita terasa ringan serta menghibur. Namun, di balik humor tersebut, tersimpan pesan penting tentang ancaman obesitas dan diabetes yang sering dianggap sepele oleh banyak orang.

Festival Literasi Cilegon Bahas “Rahasia Naskah Dilirik Oleh Penerbit Mayor”

foto S. Shinta nara sumber dari noura publishing ditemani oleh Vica Lieta selaku moderator

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cilegon kembali menghadirkan kegiatan inspiratif dalam rangkaian Festival Literasi 2026 yang digelar di Gedung Teater Perpustakaan Kota Cilegon, Rabu (21/5/2026). Mengusung sub tema “Rahasia Naskah Dilirik Oleh Penerbit Mayor”, acara ini sukses menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan.

Kegiatan bincang literasi tersebut menghadirkan narasumber utama, S. Shinta dari Noura Publishing serta dipandu oleh moderator Vica Lieta, seorang penulis novel Eat My Belly. Suasana diskusi berlangsung hangat, interaktif, dan penuh antusiasme dari para peserta yang hadir.

foto Aat Atoilah, salah satu peserta saat dialog atau season tanya jawab

Peserta yang mengikuti kegiatan ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pegiat literasi, penulis pemula, pelajar, mahasiswa, pendidik, hingga masyarakat umum yang memiliki minat besar terhadap dunia kepenulisan dan penerbitan.

Dalam pemaparannya, S. Shinta membagikan berbagai pengalaman serta tips penting mengenai bagaimana sebuah naskah dapat dilirik oleh penerbit mayor. Mulai dari pentingnya konsistensi menulis, memahami target pembaca, membangun karakter cerita yang kuat, hingga teknik menyusun proposal naskah yang menarik menjadi pembahasan utama dalam sesi tersebut.

Di Balik Majalah Dinding yang Sepi

Gambar kegiatan eskul jurnalistik, dan mading sekolah

Hujan baru saja reda ketika Arga membuka pintu ruang eskul jurnalistik. Aroma kertas, tinta printer, dan kopi sachet bercampur menjadi satu. Di ruangan kecil itu hanya ada tiga komputer tua, satu lemari penuh majalah bekas, dan papan tulis yang mulai kusam.

Namun bagi Arga, ruangan itu terasa seperti ruang redaksi sebuah media besar.

“Datang lagi paling awal?” suara Pak Damar terdengar dari belakang.

Arga tersenyum kecil. “Mau nyelesaiin artikel, Pak.”

Pak Damar meletakkan tasnya di meja. “Tentang apa?”

“Pedagang gorengan depan sekolah.”

Pak Damar tertawa pelan. “Kenapa bukan artis atau berita viral?”

Arga mengangkat bahu. “Karena orang kecil juga punya cerita.”

Jawaban itu membuat Pak Damar diam beberapa detik.

“Makanya kamu cocok masuk jurnalistik,” katanya sambil menyalakan komputer.

Eskul jurnalistik di sekolah mereka tidak terlalu diminati. Banyak siswa menganggap kegiatan itu membosankan. Tidak ada sorak penonton seperti futsal. Tidak ada panggung megah seperti band sekolah.

Yang ada hanya mengetik, revisi, wawancara, dan begadang menyusun majalah sekolah.

Literasi Kini Masuk Kampung! Kelas Menulis Segera Hadir di TBM Oemah Kece

Minggu, 10 Mei 2026, Taman Baca Masyarakat (TBM) Oemah Kece yang berlokasi di Kampung Solor, Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, mendapat kunjungan literasi dari Suherman, ST.M.M, selaku Duta Baca Banten, Ketua GPMB Kabupaten Serang sekaligus penulis serta Pendiri Rumah Menulis, Aat Atoilah.

Kunjungan ini disambut hangat oleh pengelola TBM Oemah Kece, Ibu Hiliyati, yang juga merupakan guru MTs Margagiri Bojonegara. Kehadiran TBM ini menjadi bukti bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dan berkembang mulai dari lingkungan kampung, menghadirkan ruang belajar, membaca, dan berkarya bagi masyarakat sekitar.

Agenda kunjungan ini bertujuan untuk menggagas serta mengembangkan budaya literasi di tengah masyarakat, sekaligus mengajak generasi muda kembali mencintai kegiatan membaca. Tidak hanya itu, ke depan juga akan dibuka kelas dan kursus menulis bagi para pelajar maupun masyarakat umum sebagai wadah belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri melalui dunia literasi.

Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga membangun masa depan, memperluas wawasan, dan menumbuhkan mimpi besar dari sudut-sudut kampung. Dari TBM Oemah Kece, semangat membaca dan menulis diharapkan terus menyala dan menginspirasi lebih banyak orang.

Sepenggal Kata

Gambar okus dan konsisten menulis

Ada masa ketika seseorang ingin bercerita, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ingin didengar, tetapi merasa tidak ada yang benar-benar mau mendengarkan. Mungkin kamu juga pernah berada di titik itu—menyimpan banyak mimpi, ide, dan keresahan sendirian, tanpa tahu kepada siapa semuanya harus dibagikan.

Kadang yang paling melelahkan bukan perjalanan menuju mimpi, melainkan berjalan tanpa dukungan. Tidak ada teman diskusi, tidak ada komunitas yang sejalan, bahkan sekadar seseorang yang mau mendengar cerita tentang buku yang baru selesai kamu baca pun terasa sulit ditemukan.

Padahal, bisa jadi tulisan-tulisan kecilmu diam-diam memiliki arti bagi orang lain.

Ada orang yang memang lebih mudah menulis daripada berbicara. Saat mulut memilih diam, jari-jarinya justru sibuk mengetik atau mencoretkan kata demi kata. Awalnya mungkin hanya iseng, sekadar pelampiasan rasa sepi atau penat. Namun, dari situlah sering lahir tulisan yang tulus dan terasa hidup.

Menulis itu seperti menanam benih di tanah yang sunyi. Pada awalnya tidak terlihat apa-apa. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian. Tetapi jika terus dirawat, suatu hari ia akan tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang.