Pelepasan Siswa Berbuah Karya, MTs Margagiri Luncurkan Buku Perdana

Loading

Foto pemberian apresiasi oleh Duta Baca Banten Suherman, S.T, M.M. sumber instagaram official_mtsmargagiri.

SERANG – Pelepasan siswa kelas IX MTs Al-Khairiyah Margagiri Bojonegara tahun pelajaran 2025/2026 berlangsung berbeda dari biasanya. Selain menjadi momen perpisahan bagi para siswa, kegiatan yang digelar pada Rabu (3/6/2026) itu juga menjadi saksi lahirnya karya perdana siswa berupa antologi cerpen berjudul Titik Nol.

Peluncuran buku tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan literasi madrasah. Untuk pertama kalinya, karya tulis siswa berhasil diterbitkan dan diperkenalkan kepada publik. Kehadiran Titik Nol membuktikan bahwa pelajar madrasah tidak hanya mampu menyerap ilmu pengetahuan, tetapi juga menuangkan gagasan, pengalaman, dan imajinasi mereka ke dalam karya yang bernilai.

Buku Titik Nol lahir melalui Program Duta Baca Berliteraksi yang dibimbing langsung oleh Duta Baca Provinsi Banten, Suherman, S.T., M.M., atau yang lebih dikenal dengan nama Leo Ikals. Program tersebut mendorong siswa untuk tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga berani menjadi penulis dan kreator karya.

Kepala MTs Al-Khairiyah Margagiri, Fathurrohman, S.E., menyampaikan rasa bangga atas pencapaian para siswa. Menurutnya, peluncuran buku tersebut menjadi bukti bahwa budaya literasi mampu tumbuh dan berkembang di lingkungan madrasah.

Festival Literasi Cilegon Bahas “Rahasia Naskah Dilirik Oleh Penerbit Mayor”

Loading

foto S. Shinta nara sumber dari noura publishing ditemani oleh Vica Lieta selaku moderator

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cilegon kembali menghadirkan kegiatan inspiratif dalam rangkaian Festival Literasi 2026 yang digelar di Gedung Teater Perpustakaan Kota Cilegon, Rabu (21/5/2026). Mengusung sub tema “Rahasia Naskah Dilirik Oleh Penerbit Mayor”, acara ini sukses menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan.

Kegiatan bincang literasi tersebut menghadirkan narasumber utama, S. Shinta dari Noura Publishing serta dipandu oleh moderator Vica Lieta, seorang penulis novel Eat My Belly. Suasana diskusi berlangsung hangat, interaktif, dan penuh antusiasme dari para peserta yang hadir.

foto Aat Atoilah, salah satu peserta saat dialog atau season tanya jawab

Peserta yang mengikuti kegiatan ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pegiat literasi, penulis pemula, pelajar, mahasiswa, pendidik, hingga masyarakat umum yang memiliki minat besar terhadap dunia kepenulisan dan penerbitan.

Dalam pemaparannya, S. Shinta membagikan berbagai pengalaman serta tips penting mengenai bagaimana sebuah naskah dapat dilirik oleh penerbit mayor. Mulai dari pentingnya konsistensi menulis, memahami target pembaca, membangun karakter cerita yang kuat, hingga teknik menyusun proposal naskah yang menarik menjadi pembahasan utama dalam sesi tersebut.

Di Balik Majalah Dinding yang Sepi

Loading

Gambar kegiatan eskul jurnalistik, dan mading sekolah

Hujan baru saja reda ketika Arga membuka pintu ruang eskul jurnalistik. Aroma kertas, tinta printer, dan kopi sachet bercampur menjadi satu. Di ruangan kecil itu hanya ada tiga komputer tua, satu lemari penuh majalah bekas, dan papan tulis yang mulai kusam.

Namun bagi Arga, ruangan itu terasa seperti ruang redaksi sebuah media besar.

“Datang lagi paling awal?” suara Pak Damar terdengar dari belakang.

Arga tersenyum kecil. “Mau nyelesaiin artikel, Pak.”

Pak Damar meletakkan tasnya di meja. “Tentang apa?”

“Pedagang gorengan depan sekolah.”

Pak Damar tertawa pelan. “Kenapa bukan artis atau berita viral?”

Arga mengangkat bahu. “Karena orang kecil juga punya cerita.”

Jawaban itu membuat Pak Damar diam beberapa detik.

“Makanya kamu cocok masuk jurnalistik,” katanya sambil menyalakan komputer.

Eskul jurnalistik di sekolah mereka tidak terlalu diminati. Banyak siswa menganggap kegiatan itu membosankan. Tidak ada sorak penonton seperti futsal. Tidak ada panggung megah seperti band sekolah.

Yang ada hanya mengetik, revisi, wawancara, dan begadang menyusun majalah sekolah.

MTs Tarbiyatul Akhlak: Sekolah Biasa, Hasilkan Penulis Luar Biasa

Loading

Foto bersama peserta giat literasi MTs Tarbiyatul Akhlak dan Duta Baca Provinsi Banten, Leo Ikals

Kegiatan bimbingan menulis dan pengembangan literasi sukses diselenggarakan pada 17 April 2026 di MTs. Tarbiyatul Akhlak Kramat Watu, Kabupaten Serang. Acara ini berlangsung dengan penuh antusiasme dari para siswa yang mengikuti setiap sesi dengan semangat tinggi.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber inspiratif, yaitu Suherman, S.T., M.M. yang juga dikenal dengan nama pena Leo Ikals, penulis novel Arsitek Kehidupan dan buku Berdaya Lewat Menulis, serta menjabat sebagai Ketua GPMP Kabupaten Serang. Dalam penyampaiannya, Leo Ikals memberikan motivasi kepada para siswa agar berani memulai langkah menjadi penulis sejak dini. Ia menegaskan bahwa menulis bukan hanya soal bakat, tetapi juga tentang konsistensi dan kemauan belajar.

Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan motivasi kepada generasi muda agar siap menjadi penulis handal di masa depan. Sebagai langkah awal, para siswa akan diajak untuk menyusun buku antologi cerpen karya bersama tim atau anggota literasi sekolah. Diharapkan, karya tersebut dapat menjadi kenangan sekaligus pengalaman berharga dalam perjalanan mereka di dunia kepenulisan.

Cara Candu Menulis No Writer Block

Loading

Buku Candu Menulis adalah panduan praktis bagi siapa saja yang ingin membangun kebiasaan menulis secara konsisten tanpa tekanan. Berangkat dari masalah umum seperti malas, overthinking, dan menunggu mood, buku ini mengajak pembaca mengubah pola pikir dari “harus bagus” menjadi “yang penting mulai”.

Melalui teknik sederhana seperti metode 3 kalimat, 5 menit, hingga cara mengatasi writer’s block, pembaca akan dibimbing untuk menjadikan menulis sebagai aktivitas yang ringan dan menyenangkan. Tidak hanya itu, buku ini juga membantu mengembangkan kebiasaan menjadi karya nyata, hingga berani mempublikasikan tulisan tanpa rasa takut.

Dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Candu Menulis menunjukkan bahwa siapa pun bisa menulis, bahkan menjadikannya sebagai gaya hidup. Buku ini bukan tentang menjadi penulis hebat dalam semalam, tetapi tentang membangun kebiasaan kecil yang konsisten hingga akhirnya membuat kita “ketagihan” menulis.

Berikut 5 manfaat utama dari buku Candu Menulis:

Menghidupkan Literasi Lewat Komentar Yang Positif Ternyata Jadi Tulisan

Loading

Di sini saya tidak ingin menjelaskan tentang apa dan mengapa sebuah komentar itu dibuat. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat bahwa berkomentar dapat menjadi salah satu cara efektif untuk melatih kemampuan menulis. Tentu yang dimaksud adalah komentar positif—bukan yang mengandung ujaran kebencian, syara, ataupun hoaks.

Mengapa saya menyebutnya sebagai metode berlatih menulis? Sebab setiap kali kita membaca buku, tulisan, atau artikel, kita pasti memperoleh pengetahuan baru. Dari sana muncul pro dan kontra, baik terhadap gagasan maupun sudut pandang penulis. Itulah momen ketika kita bisa mengutarakan kembali pendapat kita melalui komentar. Entah itu komentar yang sejalan, berlawanan, atau sekadar tambahan alasan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Sedikit atau banyak, sebuah komentar tetap merupakan bentuk latihan menulis.

Setiap tulisan yang kita baca pun layak ditinjau kembali kebenaran dan ketepatannya sebelum kita memuji atau mengkritisi. Dengan demikian, komentar dapat menjadi tambahan wawasan—saling menguatkan, melengkapi, bahkan menyempurnakan gagasan yang telah ada. Selain itu, ketika kita meninggalkan komentar di media sosial atau blog orang lain, biasanya penulis merasa senang karena tulisannya terbaca dan mendapat perhatian. Apalagi jika berisi masukan atau koreksi yang membangun—di sanalah kegiatan literasi menjadi hidup. Bahkan tanpa disadari, seseorang bisa mengenal siapa kita melalui jejak akun yang kita gunakan dalam berkomentar.

Menulis Bukan Soal Bakat, Tapi Keberanian | Tips Menulis ala Penulis Laskar Pelangi

Loading

Gambar Andrea Hirata, Pengarang buku laskar pelangi

Pernahkah kamu duduk di depan kertas kosong, menatap layar tanpa satu kata pun keluar? Banyak penulis pemula mengira bahwa menulis adalah bakat bawaan, hadiah istimewa yang hanya dimiliki segelintir orang. Padahal, jika kita menengok perjalanan seorang Andrea Hirata—penulis Laskar Pelangi, salah satu novel Indonesia paling berpengaruh—kita akan menemukan satu pesan kuat: menulis adalah keberanian untuk jujur, konsisten, dan percaya pada cerita yang ingin kita bagi.

Hook paling memikat dari perjalanan Andrea Hirata adalah ini: ia menulis karena cintanya pada kampung halaman, pada guru-guru yang mengubah hidupnya, dan pada mimpi yang terus ia rawat meski tantangan menghadang. Dari sinilah kita belajar bahwa cerita besar selalu dimulai dari hati yang sederhana.

Berikut beberapa tips menulis yang terinspirasi dari semangat dan filosofi Andrea Hirata, yang bisa menjadi bahan bakar bagi penulis pemula:

1. Mulailah dari Cerita yang Paling Dekat dengan Hidupmu

Laskar Pelangi lahir dari kisah nyata masa kecil di Belitung. Ini menunjukkan satu hal: kita tak perlu mencari jauh untuk menemukan bahan tulisan. Hidupmu sendiri adalah lumbung ide yang tak terbatas.
Tulislah kegembiraan, luka, perjuangan, pengalaman kecil, atau momen yang mengubahmu. Pembaca mencintai kejujuran.

Peringatan Hari Ibu, Smartfren Community Kabupaten Serang Ajak Perempuan Berkarya dan Berdaya Lewat Menulis Buku

Loading

Kabupaten Serang – Dalam rangka memperingati hari ibu, Smartfren Community Kabupaten Serang berkolaborasi dengan Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Serang serta Gerakan literasi dari SMKN 1 Pulo Ampel dan MAS Nurul Hidayah Bojonegara mengadakan diskusi literasi dengan menghadirkan dua narasumber yakni Fitri Amaliyah seorang pengarang buku novel Fiil Mudhoriik dan Widiyah Penulis novel Fluida Rasa yang bernama Widiyah di SMKN 1 Puloampel Kabupaten Serang pada, Senin (23/12/2024).

Leo Ikals selaku Leader Smartfren Community Kabupaten, Founder Kreator Merdeka sekaligus ketua GPMB Kabupaten Serang mengatakan bahwa perempuan harus berdaya, salah satunya adalah dengan cara menulis atau membuat karya sebuah buku, atau menjadi seorang penulis.

“Lewat momen hari ibu ini kita ingin mengajak kepada para perempuan dimanapun untuk bisa berdaya, salah satunya adalah dengan menulis buku. Kenapa menulis? Karena menulis dapat memberikan banyak manfaat, seperti Meningkatkan kesejahteraan mental, Memicu kreativitas individu, Membuka bakat terpendam seseorang, Meningkatkan keterampilan individu dalam mencari solusi, Menumbuhkan rasa syukur individu.” Tutur Leo Ikals dalam Sambutannya.

Peringatan Hari Ibu, Smartfren Comunity Kab. Serang Ajak Perempuan Berkarya dan Berdaya Lewat Menulis Buku

Loading

Foto kegiatan diskusi literasi dari samping kiri Widiya, pengarang novel Fluida Rasa dan
Fitri Amaliyah, pengarang novel Fiil Mudhari serta Leo Ikals leader smarfren comunity Kab serang, Ketua GPMB Kab serang.

Kabupaten Serang – Dalam rangka memperingati hari ibu, Smartfren Community Kabupaten Serang berkolaborasi dengan Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Serang serta Komunitas Rumah Menulis dari SMKN 1 Pulo Ampel dan MAS Nurul Hidayah Bojonegara mengadakan diskusi literasi dengan menghadirkan dua narasumber yakni Fitri Amaliyah seorang pengarang buku novel Fiil Mudhoriik dan Widiyah Penulis novel Fluida Rasa yang bernama Widiyah di SMKN 1 Puloampel Kabupaten Serang.

Leo Ikals selaku Leader Smartfren Community Kabupaten sekaligus ketua GPMB Kabupaten Serang mengatakan bahwa perempuan harus berdaya, salah satunya adalah dengan cara menulis atau membuat karya sebuah buku, atau menjadi seorang penulis.

“Lewat momen hari ibu ini kita ingin mengajak kepada para perempuan dimanapun untuk bisa berdaya, salah satunya adalah dengan menulis buku. Kenapa menulis? Karena menulis dapat memberikan banyak manfaat, seperti Meningkatkan kesejahteraan mental, Memicu kreativitas individu, Membuka bakat terpendam seseorang, Meningkatkan keterampilan individu dalam mencari solusi, Menumbuhkan rasa syukur individu.” Tutur Leo Ikals dalam Sambutannya.