“Kalau capek kenapa banyak orang pengen jadi jurnalis?” tanya Rani penasaran.
Pak Damar menoleh ke arah Arga. “Coba kamu jawab.”
Arga terdiam sebentar sebelum berkata pelan, “Karena jurnalis bisa membuat orang lain didengar.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga melanjutkan, “Kadang ada orang yang hidupnya susah tapi gak ada yang peduli. Ada kejadian penting tapi gak ada yang tahu. Jurnalis bisa menyampaikan itu semua.”
“Terus?” tanya Dito.
“Jurnalis juga bikin kita berani ngomong, berani bertanya, dan berani berpikir kritis,” jawab Arga. “Kita jadi banyak kenal orang, banyak pengalaman, dan banyak belajar hal baru.”
Pak Damar tersenyum bangga mendengar jawaban muridnya.
“Betul,” katanya. “Jurnalis itu bukan cuma soal menulis berita. Tapi belajar memahami dunia.”
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan acara Masa Pengenalan Ekstrakurikuler untuk siswa baru. Aula sekolah ramai oleh berbagai stan organisasi. Eskul olahraga dipenuhi teriakan semangat. Grup musik memainkan lagu keras-keras.
Sementara stan jurnalistik tampak sederhana.