Eat My Belly “Tentang Makanan, Inscure dan Self Love”

Loading

Eat My Belly Novel yang meningatkan kalau kamu berharga

Nourans, pernahkah kalian merasa kurang percaya diri karena bentuk tubuh atau penampilan fisik? Di tengah standar sosial yang sering menuntut kesempurnaan, banyak orang akhirnya tumbuh dengan rasa insecure dan sulit menerima diri sendiri. Perasaan itulah yang diangkat dalam novel Eat My Belly karya Vica Lietha yang diterbitkan oleh Noura Books. Novel ini bukan hanya menghadirkan kisah ringan penuh humor, tetapi juga menyimpan pesan mendalam tentang penerimaan diri, kesehatan, dan perjuangan mencintai tubuh sendiri.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah Karin, seorang perempuan muda yang memiliki hubungan rumit dengan makanan dan rasa percaya dirinya. Karin sangat menyukai berbagai makanan favorit seperti es boba, seblak, sate ayam, hingga nasi padang. Meski sadar kebiasaan tersebut berdampak buruk bagi kesehatan, ia tetap sulit melepaskan kenyamanan dari makanan-makanan itu. Di sisi lain, ia juga harus menghadapi tekanan sosial terhadap bentuk tubuhnya yang gemuk.

Foto penulis novel Eat My belly | Vica Lieta Sumber : https://www.bantenraya.com/

Kehadiran Dokter Raza menjadi warna tersendiri dalam cerita. Sosok dokter yang tegas namun perhatian ini sering mengingatkan Karin tentang pentingnya menjaga pola hidup sehat. Interaksi keduanya menghadirkan banyak momen lucu dan hangat yang membuat cerita terasa ringan serta menghibur. Namun, di balik humor tersebut, tersimpan pesan penting tentang ancaman obesitas dan diabetes yang sering dianggap sepele oleh banyak orang.

Cara Mulai Nulis Novel dari Nol Sampai Tamat

Loading

Banyak orang ingin menulis novel, tapi hanya sedikit yang benar-benar berani memulainya. Lebih sedikit lagi yang mampu menyelesaikannya.

“Gak Jago Nulis? Tetap Bisa Punya Novel” hadir sebagai teman perjalanan bagi siapa pun yang pernah duduk di depan halaman kosong, lalu bingung harus mulai dari mana. Buku ini bukan sekadar panduan teknis menulis, tetapi juga pendamping mental bagi penulis pemula yang sering berhadapan dengan rasa ragu, takut salah, overthinking, hingga kehilangan arah di tengah proses.

Di dalam buku ini, pembaca diajak memahami bahwa menulis bukanlah soal bakat bawaan, melainkan proses yang bisa dipelajari dan dilatih. Banyak calon penulis berhenti bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu menunggu “siap”, menunggu “mood”, atau menunggu “ide sempurna” yang sebenarnya tidak pernah datang.

Melalui bahasa yang sederhana dan dekat dengan keseharian, buku ini membimbing pembaca dari titik nol: bagaimana mengatasi rasa ragu untuk memulai, bagaimana menemukan ide dari hal-hal sederhana di sekitar, hingga bagaimana mengembangkan ide tersebut menjadi cerita yang utuh. Tidak hanya itu, pembaca juga diajak memahami cara menyusun alur cerita agar tidak berantakan, cara tetap menulis tanpa bergantung pada mood, serta cara menghadapi kebuntuan di tengah proses menulis yang sering membuat banyak orang berhenti.