Bersuara Lewat Tulisan

Loading

Jangan menganggap tulisan sebagai suara yang sunyi. Sebab, sering kali hal yang tampak tenang justru memiliki pengaruh paling besar—seperti air yang tenang, tetapi mampu menghanyutkan.

Tulisan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia mampu menyampaikan gagasan, aspirasi, kritik, maupun harapan dengan cara yang kadang tidak disadari banyak orang. Sebuah tulisan bisa menjadi awal perubahan, membuka cara pandang baru, bahkan memberi dampak besar dalam jangka panjang. Dalam buku The Elements of Style karya William Strunk Jr. dan E.B. White, dijelaskan bahwa tulisan yang baik bukan hanya soal merangkai kata, tetapi bagaimana pesan dapat tersampaikan secara jelas dan bermakna kepada pembaca.

Selama ini, banyak orang mengira bahwa menyuarakan pendapat hanya bisa dilakukan dengan berbicara lantang, berorasi, atau turun ke jalan dalam sebuah aksi. Padahal, tulisan juga bisa menjadi bentuk perjuangan. Bedanya, tulisan tidak selalu bekerja secara instan.

Tulisan bergerak perlahan. Ia dibaca oleh mata, dipahami oleh pikiran, lalu masuk ke hati seseorang. Dari sana lahir pertimbangan, pemahaman, hingga perubahan cara pandang. Tidak semua orang akan setuju. Akan ada pro dan kontra. Namun justru di situlah ruang belajar terbuka.

Eat My Belly “Tentang Makanan, Inscure dan Self Love”

Loading

Eat My Belly Novel yang meningatkan kalau kamu berharga

Nourans, pernahkah kalian merasa kurang percaya diri karena bentuk tubuh atau penampilan fisik? Di tengah standar sosial yang sering menuntut kesempurnaan, banyak orang akhirnya tumbuh dengan rasa insecure dan sulit menerima diri sendiri. Perasaan itulah yang diangkat dalam novel Eat My Belly karya Vica Lietha yang diterbitkan oleh Noura Books. Novel ini bukan hanya menghadirkan kisah ringan penuh humor, tetapi juga menyimpan pesan mendalam tentang penerimaan diri, kesehatan, dan perjuangan mencintai tubuh sendiri.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah Karin, seorang perempuan muda yang memiliki hubungan rumit dengan makanan dan rasa percaya dirinya. Karin sangat menyukai berbagai makanan favorit seperti es boba, seblak, sate ayam, hingga nasi padang. Meski sadar kebiasaan tersebut berdampak buruk bagi kesehatan, ia tetap sulit melepaskan kenyamanan dari makanan-makanan itu. Di sisi lain, ia juga harus menghadapi tekanan sosial terhadap bentuk tubuhnya yang gemuk.

Foto penulis novel Eat My belly | Vica Lieta Sumber : https://www.bantenraya.com/

Kehadiran Dokter Raza menjadi warna tersendiri dalam cerita. Sosok dokter yang tegas namun perhatian ini sering mengingatkan Karin tentang pentingnya menjaga pola hidup sehat. Interaksi keduanya menghadirkan banyak momen lucu dan hangat yang membuat cerita terasa ringan serta menghibur. Namun, di balik humor tersebut, tersimpan pesan penting tentang ancaman obesitas dan diabetes yang sering dianggap sepele oleh banyak orang.

Festival Literasi Cilegon Bahas “Rahasia Naskah Dilirik Oleh Penerbit Mayor”

Loading

foto S. Shinta nara sumber dari noura publishing ditemani oleh Vica Lieta selaku moderator

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cilegon kembali menghadirkan kegiatan inspiratif dalam rangkaian Festival Literasi 2026 yang digelar di Gedung Teater Perpustakaan Kota Cilegon, Rabu (21/5/2026). Mengusung sub tema “Rahasia Naskah Dilirik Oleh Penerbit Mayor”, acara ini sukses menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan.

Kegiatan bincang literasi tersebut menghadirkan narasumber utama, S. Shinta dari Noura Publishing serta dipandu oleh moderator Vica Lieta, seorang penulis novel Eat My Belly. Suasana diskusi berlangsung hangat, interaktif, dan penuh antusiasme dari para peserta yang hadir.

foto Aat Atoilah, salah satu peserta saat dialog atau season tanya jawab

Peserta yang mengikuti kegiatan ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pegiat literasi, penulis pemula, pelajar, mahasiswa, pendidik, hingga masyarakat umum yang memiliki minat besar terhadap dunia kepenulisan dan penerbitan.

Dalam pemaparannya, S. Shinta membagikan berbagai pengalaman serta tips penting mengenai bagaimana sebuah naskah dapat dilirik oleh penerbit mayor. Mulai dari pentingnya konsistensi menulis, memahami target pembaca, membangun karakter cerita yang kuat, hingga teknik menyusun proposal naskah yang menarik menjadi pembahasan utama dalam sesi tersebut.

Di Balik Majalah Dinding yang Sepi

Loading

Gambar kegiatan eskul jurnalistik, dan mading sekolah

Hujan baru saja reda ketika Arga membuka pintu ruang eskul jurnalistik. Aroma kertas, tinta printer, dan kopi sachet bercampur menjadi satu. Di ruangan kecil itu hanya ada tiga komputer tua, satu lemari penuh majalah bekas, dan papan tulis yang mulai kusam.

Namun bagi Arga, ruangan itu terasa seperti ruang redaksi sebuah media besar.

“Datang lagi paling awal?” suara Pak Damar terdengar dari belakang.

Arga tersenyum kecil. “Mau nyelesaiin artikel, Pak.”

Pak Damar meletakkan tasnya di meja. “Tentang apa?”

“Pedagang gorengan depan sekolah.”

Pak Damar tertawa pelan. “Kenapa bukan artis atau berita viral?”

Arga mengangkat bahu. “Karena orang kecil juga punya cerita.”

Jawaban itu membuat Pak Damar diam beberapa detik.

“Makanya kamu cocok masuk jurnalistik,” katanya sambil menyalakan komputer.

Eskul jurnalistik di sekolah mereka tidak terlalu diminati. Banyak siswa menganggap kegiatan itu membosankan. Tidak ada sorak penonton seperti futsal. Tidak ada panggung megah seperti band sekolah.

Yang ada hanya mengetik, revisi, wawancara, dan begadang menyusun majalah sekolah.

Literasi Kini Masuk Kampung! Kelas Menulis Segera Hadir di TBM Oemah Kece

Loading

Minggu, 10 Mei 2026, Taman Baca Masyarakat (TBM) Oemah Kece yang berlokasi di Kampung Solor, Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, mendapat kunjungan literasi dari Suherman, ST.M.M, selaku Duta Baca Banten, Ketua GPMB Kabupaten Serang sekaligus penulis serta Pendiri Rumah Menulis, Aat Atoilah.

Kunjungan ini disambut hangat oleh pengelola TBM Oemah Kece, Ibu Hiliyati, yang juga merupakan guru MTs Margagiri Bojonegara. Kehadiran TBM ini menjadi bukti bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dan berkembang mulai dari lingkungan kampung, menghadirkan ruang belajar, membaca, dan berkarya bagi masyarakat sekitar.

Agenda kunjungan ini bertujuan untuk menggagas serta mengembangkan budaya literasi di tengah masyarakat, sekaligus mengajak generasi muda kembali mencintai kegiatan membaca. Tidak hanya itu, ke depan juga akan dibuka kelas dan kursus menulis bagi para pelajar maupun masyarakat umum sebagai wadah belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri melalui dunia literasi.

Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga membangun masa depan, memperluas wawasan, dan menumbuhkan mimpi besar dari sudut-sudut kampung. Dari TBM Oemah Kece, semangat membaca dan menulis diharapkan terus menyala dan menginspirasi lebih banyak orang.

Sepenggal Kata

Loading

Gambar okus dan konsisten menulis

Ada masa ketika seseorang ingin bercerita, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ingin didengar, tetapi merasa tidak ada yang benar-benar mau mendengarkan. Mungkin kamu juga pernah berada di titik itu—menyimpan banyak mimpi, ide, dan keresahan sendirian, tanpa tahu kepada siapa semuanya harus dibagikan.

Kadang yang paling melelahkan bukan perjalanan menuju mimpi, melainkan berjalan tanpa dukungan. Tidak ada teman diskusi, tidak ada komunitas yang sejalan, bahkan sekadar seseorang yang mau mendengar cerita tentang buku yang baru selesai kamu baca pun terasa sulit ditemukan.

Padahal, bisa jadi tulisan-tulisan kecilmu diam-diam memiliki arti bagi orang lain.

Ada orang yang memang lebih mudah menulis daripada berbicara. Saat mulut memilih diam, jari-jarinya justru sibuk mengetik atau mencoretkan kata demi kata. Awalnya mungkin hanya iseng, sekadar pelampiasan rasa sepi atau penat. Namun, dari situlah sering lahir tulisan yang tulus dan terasa hidup.

Menulis itu seperti menanam benih di tanah yang sunyi. Pada awalnya tidak terlihat apa-apa. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian. Tetapi jika terus dirawat, suatu hari ia akan tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Cara Mulai Nulis Novel dari Nol Sampai Tamat

Loading

Banyak orang ingin menulis novel, tapi hanya sedikit yang benar-benar berani memulainya. Lebih sedikit lagi yang mampu menyelesaikannya.

“Gak Jago Nulis? Tetap Bisa Punya Novel” hadir sebagai teman perjalanan bagi siapa pun yang pernah duduk di depan halaman kosong, lalu bingung harus mulai dari mana. Buku ini bukan sekadar panduan teknis menulis, tetapi juga pendamping mental bagi penulis pemula yang sering berhadapan dengan rasa ragu, takut salah, overthinking, hingga kehilangan arah di tengah proses.

Di dalam buku ini, pembaca diajak memahami bahwa menulis bukanlah soal bakat bawaan, melainkan proses yang bisa dipelajari dan dilatih. Banyak calon penulis berhenti bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu menunggu “siap”, menunggu “mood”, atau menunggu “ide sempurna” yang sebenarnya tidak pernah datang.

Melalui bahasa yang sederhana dan dekat dengan keseharian, buku ini membimbing pembaca dari titik nol: bagaimana mengatasi rasa ragu untuk memulai, bagaimana menemukan ide dari hal-hal sederhana di sekitar, hingga bagaimana mengembangkan ide tersebut menjadi cerita yang utuh. Tidak hanya itu, pembaca juga diajak memahami cara menyusun alur cerita agar tidak berantakan, cara tetap menulis tanpa bergantung pada mood, serta cara menghadapi kebuntuan di tengah proses menulis yang sering membuat banyak orang berhenti.

Dari Ide Buntu ke Cerpen Keren

Loading

Banyak orang ingin menulis cerpen, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ide terasa buntu, cerita berhenti di tengah jalan, atau tulisan terasa “biasa saja” dan tidak menarik untuk dibaca. Jika kamu pernah mengalami hal itu, buku ini hadir sebagai jawabannya.

“Dari Ide Buntu ke Cerpen Keren: Panduan Praktis untuk Pemula dari Ide Kosong sampai Cerpen Siap Publish” adalah panduan lengkap yang dirancang khusus untuk membantu siapa pun—terutama pemula—agar bisa menulis cerpen dengan cara yang lebih mudah, terarah, dan menyenangkan.

Buku ini tidak hanya membahas teori, tetapi langsung mengajak pembaca memahami proses menulis dari awal hingga akhir. Dimulai dari cara menemukan ide tanpa harus menunggu inspirasi, lalu dilanjutkan dengan teknik menyusun premis yang kuat agar cerita tidak melebar. Pembaca juga akan belajar bagaimana menciptakan karakter yang terasa hidup, merancang alur cerita yang jelas, serta membangun konflik yang membuat pembaca terus ingin mengikuti cerita sampai selesai.

Tidak berhenti di situ, buku ini juga membahas teknik membuka cerita yang mampu langsung menarik perhatian, serta cara menulis ending yang berkesan dan tidak klise. Gaya bahasa yang sederhana namun tetap mengena juga menjadi bagian penting yang dibahas, sehingga tulisan tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga mampu menyentuh emosi pembaca.

MTs Tarbiyatul Akhlak: Sekolah Biasa, Hasilkan Penulis Luar Biasa

Loading

Foto bersama peserta giat literasi MTs Tarbiyatul Akhlak dan Duta Baca Provinsi Banten, Leo Ikals

Kegiatan bimbingan menulis dan pengembangan literasi sukses diselenggarakan pada 17 April 2026 di MTs. Tarbiyatul Akhlak Kramat Watu, Kabupaten Serang. Acara ini berlangsung dengan penuh antusiasme dari para siswa yang mengikuti setiap sesi dengan semangat tinggi.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber inspiratif, yaitu Suherman, S.T., M.M. yang juga dikenal dengan nama pena Leo Ikals, penulis novel Arsitek Kehidupan dan buku Berdaya Lewat Menulis, serta menjabat sebagai Ketua GPMP Kabupaten Serang. Dalam penyampaiannya, Leo Ikals memberikan motivasi kepada para siswa agar berani memulai langkah menjadi penulis sejak dini. Ia menegaskan bahwa menulis bukan hanya soal bakat, tetapi juga tentang konsistensi dan kemauan belajar.

Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan motivasi kepada generasi muda agar siap menjadi penulis handal di masa depan. Sebagai langkah awal, para siswa akan diajak untuk menyusun buku antologi cerpen karya bersama tim atau anggota literasi sekolah. Diharapkan, karya tersebut dapat menjadi kenangan sekaligus pengalaman berharga dalam perjalanan mereka di dunia kepenulisan.

Cara Candu Menulis No Writer Block

Loading

Buku Candu Menulis adalah panduan praktis bagi siapa saja yang ingin membangun kebiasaan menulis secara konsisten tanpa tekanan. Berangkat dari masalah umum seperti malas, overthinking, dan menunggu mood, buku ini mengajak pembaca mengubah pola pikir dari “harus bagus” menjadi “yang penting mulai”.

Melalui teknik sederhana seperti metode 3 kalimat, 5 menit, hingga cara mengatasi writer’s block, pembaca akan dibimbing untuk menjadikan menulis sebagai aktivitas yang ringan dan menyenangkan. Tidak hanya itu, buku ini juga membantu mengembangkan kebiasaan menjadi karya nyata, hingga berani mempublikasikan tulisan tanpa rasa takut.

Dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, Candu Menulis menunjukkan bahwa siapa pun bisa menulis, bahkan menjadikannya sebagai gaya hidup. Buku ini bukan tentang menjadi penulis hebat dalam semalam, tetapi tentang membangun kebiasaan kecil yang konsisten hingga akhirnya membuat kita “ketagihan” menulis.

Berikut 5 manfaat utama dari buku Candu Menulis: