Bahkan anggota jurnalistik sering mendapat julukan “anak tukang nulis.”
Namun Arga justru bangga.
Hari itu jadwal piketnya bersama Rani dan Dito. Mereka harus mengetik ulang artikel, menyusun berita sekolah, dan mendesain halaman majalah.
“Kenapa sih harus ngetik ulang artikel? Tinggal copy-paste aja selesai,” keluh Dito sambil meregangkan badan.
Pak Damar yang sedang memeriksa tulisan langsung menjawab, “Karena kalian sedang belajar proses.”
“Proses?” Rani mengernyit.
“Iya,” lanjut Pak Damar. “Kalau semuanya instan, kalian cuma dapat hasil. Tapi kalau melewati proses, kalian dapat ilmu.”
Arga mengangguk pelan. Ia merasakan sendiri perubahan itu. Dulu mengetik sepuluh jari saja terbata-bata. Sekarang ia bisa menyusun artikel sendiri.
“Tanpa sadar kalian belajar banyak,” kata Pak Damar lagi. “Belajar membaca, memilih informasi, memperbaiki tulisan, sampai memahami sudut pandang orang lain.”
Dito masih belum puas. “Tapi capek juga, Pak.”
“Jadi jurnalis memang capek,” jawab Pak Damar sambil tersenyum.