Di Balik Majalah Dinding yang Sepi

Spread the love

Hanya ada majalah sekolah, kamera lama, laptop bekas, dan papan mading penuh kliping berita.

Namun siang itu keadaan berubah.

Kepala sekolah tiba-tiba berhenti tepat di depan stan jurnalistik. Beliau mengambil salah satu majalah sekolah lalu membacanya cukup lama.

Para siswa baru mulai mendekat.

“Itu eskul apa?” bisik seseorang.

“Katanya anak-anak penulis.”

Kepala sekolah lalu mengambil mikrofon di tengah aula.

“Saya ingin mengatakan sesuatu,” ujarnya.

Suasana mendadak tenang.

“Selama ini banyak orang menganggap jurnalistik hanyalah kegiatan menulis biasa. Padahal saya percaya, jurnalistik adalah jantungnya sekolah.”

Semua siswa saling pandang.

Pak Damar terlihat terkejut.

“Lewat jurnalistik,” lanjut kepala sekolah, “sekolah ini memiliki cerita, memiliki sejarah, dan memiliki suara. Mereka mencatat prestasi, kegiatan, bahkan persoalan yang terjadi agar kita tidak menjadi sekolah yang mudah lupa.”

Tepuk tangan mulai terdengar.

“Anak-anak jurnalistik juga belajar karakter,” katanya lagi. “Mereka belajar disiplin, belajar mendengar, belajar berpikir kritis terhadap keadaan sekitar, dan belajar menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *