Sepenggal Kata

Spread the love
Gambar okus dan konsisten menulis

Ada masa ketika seseorang ingin bercerita, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ingin didengar, tetapi merasa tidak ada yang benar-benar mau mendengarkan. Mungkin kamu juga pernah berada di titik itu—menyimpan banyak mimpi, ide, dan keresahan sendirian, tanpa tahu kepada siapa semuanya harus dibagikan.

Kadang yang paling melelahkan bukan perjalanan menuju mimpi, melainkan berjalan tanpa dukungan. Tidak ada teman diskusi, tidak ada komunitas yang sejalan, bahkan sekadar seseorang yang mau mendengar cerita tentang buku yang baru selesai kamu baca pun terasa sulit ditemukan.

Padahal, bisa jadi tulisan-tulisan kecilmu diam-diam memiliki arti bagi orang lain.

Ada orang yang memang lebih mudah menulis daripada berbicara. Saat mulut memilih diam, jari-jarinya justru sibuk mengetik atau mencoretkan kata demi kata. Awalnya mungkin hanya iseng, sekadar pelampiasan rasa sepi atau penat. Namun, dari situlah sering lahir tulisan yang tulus dan terasa hidup.

Menulis itu seperti menanam benih di tanah yang sunyi. Pada awalnya tidak terlihat apa-apa. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian. Tetapi jika terus dirawat, suatu hari ia akan tumbuh dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *