Arga menunduk haru.
Kepala sekolah kemudian menyerahkan piagam penghargaan kepada redaksi jurnalistik sekolah karena berhasil membuat media informasi digital sekolah.
“Meski mading sekolah kadang sepi pembaca,” ucap beliau sambil tersenyum, “bukan berarti kreativitas mereka mati.”
Para siswa baru mulai memperhatikan serius.
“Mereka terus berinovasi. Membuat blog sekolah, website sekolah, bahkan mading online. Berita kegiatan sekolah sekarang bisa dibaca siapa saja, bukan hanya warga sekolah, tetapi juga masyarakat umum.”
Rani menahan senyum bangga.
“Bahkan beberapa artikel mereka pernah dibagikan alumni dan dibaca ratusan orang,” tambah kepala sekolah.
Dito yang biasanya paling banyak mengeluh kini justru bertepuk tangan paling keras.
Sore harinya ruang jurnalistik terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, banyak siswa baru datang berkunjung.
“Kak, kalau masuk jurnalistik harus jago nulis dulu gak?”
“Belajar desain diajarin juga?”
“Bisa jadi reporter sekolah?”
Pertanyaan demi pertanyaan membuat ruangan kecil itu mendadak ramai.