Arga tersenyum melihat semuanya.
Pak Damar menepuk pundaknya pelan.
“Nah,” katanya, “kadang perjuangan gak langsung terlihat hasilnya.”
Arga memandang papan mading yang mulai penuh karya baru.
Ia sadar, mungkin tulisan mereka memang tidak selalu viral. Tidak selalu ramai dibaca. Tetapi setidaknya mereka sedang menjaga sesuatu yang penting: cerita dan suara sekolah mereka sendiri.
Malam mulai turun ketika mereka kembali menyusun artikel untuk website sekolah.
Di halaman terakhir majalah digital, Arga menulis sebuah kalimat:
“Untuk berkarya tidak harus menunggu sempurna. Karena karya terbaik adalah karya yang berani dimulai hari ini.”
Rani membaca tulisan itu sambil tersenyum.
“Kayaknya kita memang belum hebat ya.”
Arga menatap layar komputer yang memantulkan cahaya hangat di wajah mereka.
“Iya,” katanya pelan. “Tapi mungkin suatu hari nanti, dari ruangan kecil ini, akan lahir orang-orang yang mengubah dunia lewat tulisan.”