Ketika Kata Lebih Berharga dari Emas

Loading

Tidak banyak penulis yang terang-terangan menyebut menulis sebagai jalan untuk cepat kaya. Meskipun benar ada yang berhasil meraih banyak uang dari buku-buku best seller, namun kenyataannya tidak semua penulis mencapai titik itu. Menulis bukanlah profesi yang selalu identik dengan kekayaan materi. Pertanyaannya, apakah uang dan popularitas benar-benar menjadi tujuan utama seorang penulis?

Sejarah menunjukkan hal lain. Banyak penulis besar yang karya-karyanya tetap hidup hingga kini, dibaca oleh jutaan orang lintas generasi. Di sinilah letak kekayaan seorang penulis. Bukan pada harta yang bisa habis, melainkan pada warisan intelektual yang abadi. Pramoedya Ananta Toer pernah berujar, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Melalui tulisan, seorang penulis menolak dilupakan sejarah.

Karya ibarat pisau bermata dua—bisa menjadi penerang, penggerak, dan pemberi manfaat, tetapi juga bisa menyesatkan jika disalahgunakan. Karena itu, menulis seharusnya ditempatkan pada tujuan yang mulia: memperkaya pikiran, memperluas wawasan, dan memberi manfaat sebesar-besarnya. Kekayaan yang dimiliki penulis adalah kekayaan pengetahuan, yang tidak kasat mata namun terus berdenyut di hati pembaca.

Pelepasan Siswa Berbuah Karya, MTs Margagiri Luncurkan Buku Perdana

Loading

Foto pemberian apresiasi oleh Duta Baca Banten Suherman, S.T, M.M. sumber instagaram official_mtsmargagiri.

SERANG – Pelepasan siswa kelas IX MTs Al-Khairiyah Margagiri Bojonegara tahun pelajaran 2025/2026 berlangsung berbeda dari biasanya. Selain menjadi momen perpisahan bagi para siswa, kegiatan yang digelar pada Rabu (3/6/2026) itu juga menjadi saksi lahirnya karya perdana siswa berupa antologi cerpen berjudul Titik Nol.

Peluncuran buku tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan literasi madrasah. Untuk pertama kalinya, karya tulis siswa berhasil diterbitkan dan diperkenalkan kepada publik. Kehadiran Titik Nol membuktikan bahwa pelajar madrasah tidak hanya mampu menyerap ilmu pengetahuan, tetapi juga menuangkan gagasan, pengalaman, dan imajinasi mereka ke dalam karya yang bernilai.

Buku Titik Nol lahir melalui Program Duta Baca Berliteraksi yang dibimbing langsung oleh Duta Baca Provinsi Banten, Suherman, S.T., M.M., atau yang lebih dikenal dengan nama Leo Ikals. Program tersebut mendorong siswa untuk tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga berani menjadi penulis dan kreator karya.

Kepala MTs Al-Khairiyah Margagiri, Fathurrohman, S.E., menyampaikan rasa bangga atas pencapaian para siswa. Menurutnya, peluncuran buku tersebut menjadi bukti bahwa budaya literasi mampu tumbuh dan berkembang di lingkungan madrasah.