Ketika Kata Lebih Berharga dari Emas

Spread the love

Loading

Kekayaan ini nyata, meski penulisnya sudah tiada. Buku menjadi warisan yang lebih berharga dari rumah megah atau perhiasan. Saya sendiri pernah menemukan kembali buku peninggalan seorang teman yang sudah wafat. Membaca kembali tulisannya membuat saya merasa ia masih hadir. Inilah bukti bahwa karya tulis adalah harta yang tak lekang oleh waktu.

Namun menjadi penulis bukanlah jalan pintas. Sama halnya dengan tren profesi digital seperti youtuber atau selebgram—banyak yang mencoba, sedikit yang berhasil. Bahkan kerja keras sekalipun tidak selalu menjamin kesuksesan materi. Karena itu, menulis sebaiknya tidak dimulai dari obsesi mencari uang. Lebih bijak jika menulis diniatkan sebagai dedikasi untuk mencerdaskan, membuka wawasan, dan melawan kemiskinan ilmu.

Seorang penulis sejati adalah sosok yang dermawan. Ia rela memberikan gagasan, pengalaman, dan pengetahuan tanpa pamrih. Melalui tulisan, ia bisa menembus sekat usia, profesi, bahkan generasi. Siapa pun bisa menjadi penulis—ibu rumah tangga, pelajar, pekerja, atau siapa saja—asal memiliki kemauan, konsistensi, dan tekad. Menulis adalah upaya melawan kebodohan dan buta literasi, sekaligus cara sederhana untuk memperkaya peradaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *