Mendaki, Menulis, dan Merawat Makna Perjalanan

Loading

Gambar mendaki gunung

Mendaki gunung kerap dipandang sebagai aktivitas yang sia-sia. Banyak orang menganggapnya hanya menguras tenaga, membuang waktu, bahkan berisiko. Tak jarang, mereka yang memilih mendaki dicap aneh, nekat, atau terlalu memaksakan diri. Namun, bagi seorang penulis, mendaki justru menyerupai proses kreatif itu sendiri: sunyi, penuh rintangan, dan sarat pelajaran.

Dalam dunia kepenulisan, tantangan terbesar sering kali bukan terletak pada teknik atau kemampuan bahasa, melainkan pada keberanian untuk memulai. Seperti pendaki pemula, penulis kerap disambut oleh suara-suara yang melemahkan: takut salah, takut tidak dibaca, takut dianggap tidak penting. Kekhawatiran itu tumbuh sebelum perjalanan dimulai, hingga akhirnya banyak tulisan berhenti hanya sebagai niat, tak pernah menjadi kata, apalagi karya.

Gunung adalah metafora yang jujur tentang cita-cita. Ia berdiri kokoh, jauh, dan tidak menawarkan jalan pintas. Setiap langkah menuju puncak menuntut kesabaran, ketekunan, dan kesiapan menghadapi ketidaknyamanan. Begitu pula menulis. Tak ada tulisan matang yang lahir tanpa proses. Satu paragraf terbentuk dari keberanian menuliskan satu kalimat, lalu kalimat berikutnya, meski terasa canggung dan belum sempurna.

Menghidupkan Literasi Lewat Komentar Yang Positif Ternyata Jadi Tulisan

Loading

Di sini saya tidak ingin menjelaskan tentang apa dan mengapa sebuah komentar itu dibuat. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat bahwa berkomentar dapat menjadi salah satu cara efektif untuk melatih kemampuan menulis. Tentu yang dimaksud adalah komentar positif—bukan yang mengandung ujaran kebencian, syara, ataupun hoaks.

Mengapa saya menyebutnya sebagai metode berlatih menulis? Sebab setiap kali kita membaca buku, tulisan, atau artikel, kita pasti memperoleh pengetahuan baru. Dari sana muncul pro dan kontra, baik terhadap gagasan maupun sudut pandang penulis. Itulah momen ketika kita bisa mengutarakan kembali pendapat kita melalui komentar. Entah itu komentar yang sejalan, berlawanan, atau sekadar tambahan alasan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Sedikit atau banyak, sebuah komentar tetap merupakan bentuk latihan menulis.

Setiap tulisan yang kita baca pun layak ditinjau kembali kebenaran dan ketepatannya sebelum kita memuji atau mengkritisi. Dengan demikian, komentar dapat menjadi tambahan wawasan—saling menguatkan, melengkapi, bahkan menyempurnakan gagasan yang telah ada. Selain itu, ketika kita meninggalkan komentar di media sosial atau blog orang lain, biasanya penulis merasa senang karena tulisannya terbaca dan mendapat perhatian. Apalagi jika berisi masukan atau koreksi yang membangun—di sanalah kegiatan literasi menjadi hidup. Bahkan tanpa disadari, seseorang bisa mengenal siapa kita melalui jejak akun yang kita gunakan dalam berkomentar.

“Menulis membebaskan, membangun, dan memberdayakan.” | Sinopsis Buku Berdaya Lewat Menulis

Loading

Leo Ikals dan buku berdaya lewat menulis

Sinopsis Buku:

“Setiap orang menyimpan kisah yang mampu menggetarkan dunia. Masalahnya, tidak semua berani menuangkannya menjadi kata. Berdaya Lewat Menulis hadir untuk membuktikan bahwa satu kalimat saja dapat mengubah hidup—termasuk hidup Anda.”

Buku ini ditulis untuk memudahkan pembaca khusunya bagi yang ingin dapat menulis, yang bersifat seperti tutorial dengan bahasa yang ringan dan ringkas seperti berdialog atau ‘ngobrol’ dengan seseorang teman. sehingga tak terasa buku ini akan cepat selesai dibaca karena tidak membosankan. karena memang buku ini cocok sebagai teman duduk saat santai ataupun saat sibuk sekalipun. dengan beberapa pertanyaan yang mewakili dari beberapa pertanyaan calon pembaca khusunya tentang dunia tulis menulis. dan pengarang mencoba menjawab semua permasalan yang selama ini menjadi hambatan bagi calon-calon penulis, apalagi penulis pemula. Buku ini terdiri tiga poin pokok pembhasan yakni, Pertama The Power Of Menulis, yang membawa pembaca untuk mendapat suntikan motivasi dan inspirasi baru untuk menulis. Kedua mulai menulis. beberapa teknik jitu dijelaskan pada poin ini yang semuanya dilengkapi dengan kotak kosong khusus untuk praktik langsung pembacanya untuk menulis. karena kunci menuli adalah dengan menulis itu sendiri. ketiga masuk pada inti yaitu Berdaya Lewat Menulis, menjelaskan bagaimana dengan menulis itu bisa menyenangkan dan mengenyangkan. artinya kita tak sekedar hobi akan tetapi dengan menulis kita dapa hidup dan menghidupi dari hasil karya tulis yang kita buat. (hal.9)

Menulis Bukan Soal Bakat, Tapi Keberanian | Tips Menulis ala Penulis Laskar Pelangi

Loading

Gambar Andrea Hirata, Pengarang buku laskar pelangi

Pernahkah kamu duduk di depan kertas kosong, menatap layar tanpa satu kata pun keluar? Banyak penulis pemula mengira bahwa menulis adalah bakat bawaan, hadiah istimewa yang hanya dimiliki segelintir orang. Padahal, jika kita menengok perjalanan seorang Andrea Hirata—penulis Laskar Pelangi, salah satu novel Indonesia paling berpengaruh—kita akan menemukan satu pesan kuat: menulis adalah keberanian untuk jujur, konsisten, dan percaya pada cerita yang ingin kita bagi.

Hook paling memikat dari perjalanan Andrea Hirata adalah ini: ia menulis karena cintanya pada kampung halaman, pada guru-guru yang mengubah hidupnya, dan pada mimpi yang terus ia rawat meski tantangan menghadang. Dari sinilah kita belajar bahwa cerita besar selalu dimulai dari hati yang sederhana.

Berikut beberapa tips menulis yang terinspirasi dari semangat dan filosofi Andrea Hirata, yang bisa menjadi bahan bakar bagi penulis pemula:

1. Mulailah dari Cerita yang Paling Dekat dengan Hidupmu

Laskar Pelangi lahir dari kisah nyata masa kecil di Belitung. Ini menunjukkan satu hal: kita tak perlu mencari jauh untuk menemukan bahan tulisan. Hidupmu sendiri adalah lumbung ide yang tak terbatas.
Tulislah kegembiraan, luka, perjuangan, pengalaman kecil, atau momen yang mengubahmu. Pembaca mencintai kejujuran.

Motivasi atau Disiplin Lebih Penting Mana?

Loading

Ada istilah mentok menulis atau  bisa disebut mental block dan writer’s block. Setiap orang pasti pernah mengalaminya, apalagi bagi penulis pemula. Oleh karena para penulis atau mentor dan komunitas literasi berlomba-lomba untuk memberi semangat agar tetap produktif menulis. Tapi kenyataannya tak semudah itu. Karena beberapa alasan atau faktor baik faktor internal maupun eksternal yang membuat semangat nulis jadi mentok.

Tapi dalam hal ini saya tidak ingin membahas apa saja atau tips untuk semangat menulis, akan tetapi saya ingin memberikan sedikit pemahaman tentang dua hal diatas.

Memang betul kita sering mengalami menulis itu karena berawal terinspirasi atau termotivasi, entah itu saat mendengarkan orang lain atau saat membaca artikel yang menarik dan menggugah semangat. Sehingga kita memiliki energi dan keinginan untuk bertindak atau mau mencoba menulis untuk menjadi penulis.

Tapi pada kenyataannya tidak cukup disitu. Pada hakikatnya semua hal bukan karena semangat atau terinspirasi semata karena itu sifatnya hanya semantara. Seperti saat kita mendengarkan sang motivator di ruangan seminar atau pelatihan begitu membara dan tenang, menggebu-gebu untuk menjadi bisa, untuk menjadi sukses. Tetapi saat keluar ruangan entah ide itu bisa hilang atau semangat itu redup kembali.

Kapan Siap Menulis?

Loading

Kapan terakhir kali Anda menulis? Kapan terakhir kali Anda bercerita, curhat dengan teman, memberi nasihat, atau menerima pesan penting dari seseorang?

Sebenarnya bukan karena kita tidak bisa menulis, atau tidak punya waktu. Masalah utamanya adalah tidak ada niat. Padahal, setiap orang sesungguhnya mampu menulis lebih dari seratus kata setiap hari. Sayangnya, kebiasaan itu hanya tersalurkan saat mengetik pesan singkat atau membaca chat WhatsApp.

Coba perhatikan: jari-jari kita—terutama kedua jempol—sudah terbiasa mengetik di layar handphone hampir setiap waktu. Kita juga gemar membaca, bahkan baru bangun tidur pun langsung mengecek chat masuk atau scroll media sosial. Jadi, aktivitas membaca dan menulis sebenarnya sudah menjadi bagian hidup kita. Tinggal bagaimana kita mengalihkannya ke media yang lebih bermanfaat, misalnya menulis di buku harian, laptop, atau aplikasi catatan di ponsel.

Jangan terus memperbanyak alasan. Jangan menunggu waktu atau fasilitas yang belum tentu datang. Mulailah dengan apa yang ada, seadanya, sebisanya, semampunya. Terlalu banyak berpikir dan menunda hanya akan membuat kita tertinggal dari orang lain yang lebih rajin dan konsisten menulis.

Mobil Esemka Yang Tenggelam

Loading

Beberapa bulan ini masih kisruh masalah dugaan ijazah palsu Jokowi, tapi bisa bisanya saya iseng beli buku “Jokowi Tokoh Perubahan” secara online, karena dengan harganya dibawah dua puluh ribu dan pasti bukunya ori.

Meskipun buku ini terbit di tahun 2012, tetapi sama sekali saya belum pernah membacanya. Maka dari itu buku ini walaupun sudah hampir tiga belas tahun saya anggap adalah buku baru. Ya maksudnya baru baca.

Ada beberapa hal yang menarik dari buku ini, juga beberapa fakta yang mungkin kita kilas balik sejenak hubungan antara hari-hari ini yang terjadi dengan masa silam. Tentunya tentang kegemilangan pak Jokowi.

Pertama 

Jokowi lahir 20 Juni 1961. pada halaman 9, buku ini menjelaskan bahwa Jokowi lahir pada zaman serba sulit dan hidup bersama adik-adiknya dan dibesarkan orang tua mereka di kawasan bantaran sungai. Intinya Jokowi merasakan pahitnya hidup. Oleh karenanya justru membuat jokowi menjadi manusia yang disiplin dan teguh. Dari sini juga belajar memiliki watak rendah hati dan mandiri.

Penulis Kaya Dalam Keabadian

Loading

Gambar menulis dikutip dari: https://www.ikapi.org

 Rasanya saya belum pernah dengar kata-kata dari tokoh penulis yang menggembar-gemborkan nulis itu jadi kaya. Meskipun banyak penulis yang bisa mendapat banyak uang dan dari hasil menulis.

Mungkin ada juga menjadi penulis sebagai peluang untuk mendapat cuan atau sebuah industri. Tapi apakah tiap penulis bisa sukses semua.

Misalnya dengan banyaknya karya atau bukunya yang berhasil terbit dan dicetak berkali-kali berjuta-juta eksemplar. Apakah setelah melewati itu akan mendatangkan kebahagiaan? Apalagi tokoh-tokoh terdahulu yang karya-karyanya dicari, diburu, dan dibaca oleh ribuan dan jutaan orang, hingga saat ini dan yang akan datang.

Menurut saya, mungkin terlalu rendah bila kita menulis atau berprofesi sebagai penulis hanya berharap dapat uang. Ya, memang tidak munafik, siapakah yang tidak butuh uang. Tapi coba pikirkan kembali bahwa menulis itu lebih dari sekedar mencari uang, cari kekayaan, atau popularitas. Bagaimana untuk sampai pada pandangan yang lebih tinggi levelnya atau kedudukannya. Karena kata Pramoedya Ananta Toer “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Ia juga mengatakan bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”. Begitupun penulis itu bisa menjadi apa saja. Seperti kita memiliki sebuah pisau. Untuk apa digunakan. Bisa untuk mengiris barang-barang didapur, atau bisa juga untuk dipakai dalam hal kejahatan.

KEJUTAN SEBUAH BUKIT

Loading

Cerpen Azkha

“Nani aku coba bubur kacang ijonya, ya IIII”Aku menghampiri Nani yang berada di pojok kelas sambil memakan bubur kacang ijo.

“Nich, silahkan.”Nani menyodorkan mangkok yang berisi bubur kehadapanku.

“Aku ingin coba, apakah sama atau tidak rasanya dengan buatan papahku. “Aku berkata sebelum memasukkan bubur kacang ijo itu kedalam mulutku.

“Emmmm…… Rasanya nggak beda jauh,lumayan enak.”Aku berkata setelah merasakannya.

“Emangnya papamu sering bikin bubur kacang ijo …???”Nani berkata keheranan.

Aku tersenyum kecil lalu aku berkata “Dulu papaku pernah jualan bubur kacang ijo.saat itu setiap harinya aku menghabiskan tiga mangkuk bubur kacang ijo.

“Lala apakah kamu mau makan buburku juga, ini…???”Nana bersuara dari arah depan, kebetulan dia juga makan bubur kacang ijo di meja depan dalam barisan yang sama.

“iya, kebetulan Aku lapar, boleh Aku habiskan ???” Aku langsung menghampiri dan mengambil mangkok darinya.

Aku melihat Yagi berlari terbirit-birit keluar dari kantor sekolah menuju aku yang sedang asyik makan bubur di salah satu ruang kelas dari jendela.

Peringatan Hari Ibu, Smartfren Comunity Kab. Serang Ajak Perempuan Berkarya dan Berdaya Lewat Menulis Buku

Loading

Foto kegiatan diskusi literasi dari samping kiri Widiya, pengarang novel Fluida Rasa dan
Fitri Amaliyah, pengarang novel Fiil Mudhari serta Leo Ikals leader smarfren comunity Kab serang, Ketua GPMB Kab serang.

Kabupaten Serang – Dalam rangka memperingati hari ibu, Smartfren Community Kabupaten Serang berkolaborasi dengan Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Serang serta Komunitas Rumah Menulis dari SMKN 1 Pulo Ampel dan MAS Nurul Hidayah Bojonegara mengadakan diskusi literasi dengan menghadirkan dua narasumber yakni Fitri Amaliyah seorang pengarang buku novel Fiil Mudhoriik dan Widiyah Penulis novel Fluida Rasa yang bernama Widiyah di SMKN 1 Puloampel Kabupaten Serang.

Leo Ikals selaku Leader Smartfren Community Kabupaten sekaligus ketua GPMB Kabupaten Serang mengatakan bahwa perempuan harus berdaya, salah satunya adalah dengan cara menulis atau membuat karya sebuah buku, atau menjadi seorang penulis.

“Lewat momen hari ibu ini kita ingin mengajak kepada para perempuan dimanapun untuk bisa berdaya, salah satunya adalah dengan menulis buku. Kenapa menulis? Karena menulis dapat memberikan banyak manfaat, seperti Meningkatkan kesejahteraan mental, Memicu kreativitas individu, Membuka bakat terpendam seseorang, Meningkatkan keterampilan individu dalam mencari solusi, Menumbuhkan rasa syukur individu.” Tutur Leo Ikals dalam Sambutannya.