Menghidupkan Literasi Lewat Komentar Yang Positif Ternyata Jadi Tulisan

Di sini saya tidak ingin menjelaskan tentang apa dan mengapa sebuah komentar itu dibuat. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat bahwa berkomentar dapat menjadi salah satu cara efektif untuk melatih kemampuan menulis. Tentu yang dimaksud adalah komentar positif—bukan yang mengandung ujaran kebencian, syara, ataupun hoaks.

Mengapa saya menyebutnya sebagai metode berlatih menulis? Sebab setiap kali kita membaca buku, tulisan, atau artikel, kita pasti memperoleh pengetahuan baru. Dari sana muncul pro dan kontra, baik terhadap gagasan maupun sudut pandang penulis. Itulah momen ketika kita bisa mengutarakan kembali pendapat kita melalui komentar. Entah itu komentar yang sejalan, berlawanan, atau sekadar tambahan alasan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Sedikit atau banyak, sebuah komentar tetap merupakan bentuk latihan menulis.

Setiap tulisan yang kita baca pun layak ditinjau kembali kebenaran dan ketepatannya sebelum kita memuji atau mengkritisi. Dengan demikian, komentar dapat menjadi tambahan wawasan—saling menguatkan, melengkapi, bahkan menyempurnakan gagasan yang telah ada. Selain itu, ketika kita meninggalkan komentar di media sosial atau blog orang lain, biasanya penulis merasa senang karena tulisannya terbaca dan mendapat perhatian. Apalagi jika berisi masukan atau koreksi yang membangun—di sanalah kegiatan literasi menjadi hidup. Bahkan tanpa disadari, seseorang bisa mengenal siapa kita melalui jejak akun yang kita gunakan dalam berkomentar.

Menulis Bukan Soal Bakat, Tapi Keberanian | Tips Menulis ala Penulis Laskar Pelangi

Gambar Andrea Hirata, Pengarang buku laskar pelangi

Pernahkah kamu duduk di depan kertas kosong, menatap layar tanpa satu kata pun keluar? Banyak penulis pemula mengira bahwa menulis adalah bakat bawaan, hadiah istimewa yang hanya dimiliki segelintir orang. Padahal, jika kita menengok perjalanan seorang Andrea Hirata—penulis Laskar Pelangi, salah satu novel Indonesia paling berpengaruh—kita akan menemukan satu pesan kuat: menulis adalah keberanian untuk jujur, konsisten, dan percaya pada cerita yang ingin kita bagi.

Hook paling memikat dari perjalanan Andrea Hirata adalah ini: ia menulis karena cintanya pada kampung halaman, pada guru-guru yang mengubah hidupnya, dan pada mimpi yang terus ia rawat meski tantangan menghadang. Dari sinilah kita belajar bahwa cerita besar selalu dimulai dari hati yang sederhana.

Berikut beberapa tips menulis yang terinspirasi dari semangat dan filosofi Andrea Hirata, yang bisa menjadi bahan bakar bagi penulis pemula:

1. Mulailah dari Cerita yang Paling Dekat dengan Hidupmu

Laskar Pelangi lahir dari kisah nyata masa kecil di Belitung. Ini menunjukkan satu hal: kita tak perlu mencari jauh untuk menemukan bahan tulisan. Hidupmu sendiri adalah lumbung ide yang tak terbatas.
Tulislah kegembiraan, luka, perjuangan, pengalaman kecil, atau momen yang mengubahmu. Pembaca mencintai kejujuran.

Peringatan Hari Ibu, Smartfren Community Kabupaten Serang Ajak Perempuan Berkarya dan Berdaya Lewat Menulis Buku

Kabupaten Serang – Dalam rangka memperingati hari ibu, Smartfren Community Kabupaten Serang berkolaborasi dengan Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Serang serta Gerakan literasi dari SMKN 1 Pulo Ampel dan MAS Nurul Hidayah Bojonegara mengadakan diskusi literasi dengan menghadirkan dua narasumber yakni Fitri Amaliyah seorang pengarang buku novel Fiil Mudhoriik dan Widiyah Penulis novel Fluida Rasa yang bernama Widiyah di SMKN 1 Puloampel Kabupaten Serang pada, Senin (23/12/2024).

Leo Ikals selaku Leader Smartfren Community Kabupaten, Founder Kreator Merdeka sekaligus ketua GPMB Kabupaten Serang mengatakan bahwa perempuan harus berdaya, salah satunya adalah dengan cara menulis atau membuat karya sebuah buku, atau menjadi seorang penulis.

“Lewat momen hari ibu ini kita ingin mengajak kepada para perempuan dimanapun untuk bisa berdaya, salah satunya adalah dengan menulis buku. Kenapa menulis? Karena menulis dapat memberikan banyak manfaat, seperti Meningkatkan kesejahteraan mental, Memicu kreativitas individu, Membuka bakat terpendam seseorang, Meningkatkan keterampilan individu dalam mencari solusi, Menumbuhkan rasa syukur individu.” Tutur Leo Ikals dalam Sambutannya.

Peringatan Hari Ibu, Smartfren Comunity Kab. Serang Ajak Perempuan Berkarya dan Berdaya Lewat Menulis Buku

Foto kegiatan diskusi literasi dari samping kiri Widiya, pengarang novel Fluida Rasa dan
Fitri Amaliyah, pengarang novel Fiil Mudhari serta Leo Ikals leader smarfren comunity Kab serang, Ketua GPMB Kab serang.

Kabupaten Serang – Dalam rangka memperingati hari ibu, Smartfren Community Kabupaten Serang berkolaborasi dengan Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Kabupaten Serang serta Komunitas Rumah Menulis dari SMKN 1 Pulo Ampel dan MAS Nurul Hidayah Bojonegara mengadakan diskusi literasi dengan menghadirkan dua narasumber yakni Fitri Amaliyah seorang pengarang buku novel Fiil Mudhoriik dan Widiyah Penulis novel Fluida Rasa yang bernama Widiyah di SMKN 1 Puloampel Kabupaten Serang.

Leo Ikals selaku Leader Smartfren Community Kabupaten sekaligus ketua GPMB Kabupaten Serang mengatakan bahwa perempuan harus berdaya, salah satunya adalah dengan cara menulis atau membuat karya sebuah buku, atau menjadi seorang penulis.

“Lewat momen hari ibu ini kita ingin mengajak kepada para perempuan dimanapun untuk bisa berdaya, salah satunya adalah dengan menulis buku. Kenapa menulis? Karena menulis dapat memberikan banyak manfaat, seperti Meningkatkan kesejahteraan mental, Memicu kreativitas individu, Membuka bakat terpendam seseorang, Meningkatkan keterampilan individu dalam mencari solusi, Menumbuhkan rasa syukur individu.” Tutur Leo Ikals dalam Sambutannya.