Meski serba digital, tetap ada keterbatasan—kuota habis, baterai lemah, sinyal buruk, dan biaya yang tak selalu terjangkau. Pada saat seperti ini, kita sadar bahwa membaca tak harus bergantung pada teknologi. Buku cetak yang sederhana tetap menjadi teman yang setia.
Di tengah semua perubahan, aku sering bertanya: Seandainya saya adalah penulis hebat, apa yang ingin kulakukan? Jawabannya sederhana. Aku ingin menulis sesuatu yang mampu menggerakkan orang untuk membaca. Tulisan yang memberi semangat, menyentuh hati, dan mengingatkan bahwa penulis hebat lahir dari kebiasaan membaca yang hebat pula.
Apa gunanya banyak penulis hebat jika hanya sedikit orang yang mau membaca? Saat ini, mungkin pesan singkat di ponsel lebih sering dibaca daripada buku. Namun untuk membaca yang memperluas wawasan, banyak orang masih enggan meluangkan waktu.
Karena itu, seandainya aku adalah penulis hebat, aku hanya ingin berpesan: Luangkanlah waktu untuk membaca, meskipun hanya sebentar. Dari satu halaman yang kau baca hari ini, mungkin lahir sebuah perubahan besar dalam hidupmu.