Mimpiko Jadi Penulis

Mimpi itu tidak datang sebagai bunga tidur. Ia datang sebagai beban yang menempel di dada, berat, menyesakkan, dan tak pernah benar-benar pergi. Dalam mimpi itu, Raka selalu melihat dirinya duduk sendirian di depan laptop tua, lampu meja menyala redup, sementara di luar hujan turun tanpa suara. Jarinya bergerak, menulis kata demi kata—seolah jika ia berhenti, hidupnya akan runtuh.

Sejak kecil, Raka kehausan akan ilmu seperti orang yang berjalan jauh tanpa air. Ia membaca apa pun yang bisa ia temukan. Koran bekas bungkus nasi ia luruskan dan keringkan. Buku pinjaman ia jaga seperti nyawa. Ia berburu buku bekas di pasar loak, meminjam dari teman, bahkan rela berjalan jauh hanya untuk duduk di toko buku dan membaca judul-judul di rak.

Ia jarang membeli. Ia tak mampu.
Ia hanya bermimpi.

“Suatu hari,” bisiknya pada dirinya sendiri, “aku akan punya toko buku besar dan murah. Aku akan punya perpustakaan yang boleh dimasuki siapa saja.”

Bagi Raka, buku bukan benda mati. Ia menyayanginya seperti manusia. Tak pernah mencoret, tak pernah melipat. Ia bungkus rapi. Jika ada teman meminjam, ia berikan tanpa hitung-hitungan. Bahkan ketika koleksinya sangat sedikit, sebagian ia sumbangkan. Ilmu, baginya, tak boleh dipeluk sendirian.

Namun hidup tidak pernah lembut pada orang seperti Raka.

Banjir datang tanpa permisi. Air sungai meluap di malam gelap, masuk ke rumah kayu mereka. Pagi harinya, Raka berdiri gemetar melihat buku-bukunya basah, rusak, halaman menempel, bercampur lumpur. Salah satu buku itu ia beli dari uang hasil menjual kambing kesayangannya—satu-satunya harta yang ia punya.