Mimpiko Jadi Penulis

Spread the love

Ia bertahan.

Ia mengirim tulisan ke koran lokal di Buli. Ke media kecil. Ditolak. Mengirim lagi. Ditolak lagi. Kadang dimuat, honornya tak cukup membeli beras.

Sari kembali berkata dengan suara lelah:
“Kapan hidup kita berubah, Ka? Sampai kapan kita begini?”

Raka menjawab pelan, nyaris berbisik:
“Percaya aku. Ini jalan panjang. Tidak instan.”

Hingga suatu hari, satu tulisannya viral.

Namanya dikenal. Tulisannya dibaca ribuan orang. Ia diangkat menjadi Duta Baca Provinsi, lalu Duta Baca Nasional. Ia bolak-balik ke luar negeri, menghadiri forum literasi dunia.

Di pesawat, di hotel asing, ia sering teringat satu hal:
ia pernah gagal membeli susu untuk anaknya sendiri.

Dalam sebuah pelatihan, ia berkata dengan suara bergetar:

“Saya bukan anak jenius. Saya gagal di matematika. Saya gagal masuk perguruan tinggi negeri. Tapi saya menemukan kekuatan saya di bahasa. Jika kamu lemah di satu bidang, carilah cahaya di bidang lain.”

Ia menambahkan:

“Para musisi legendaris tidak kita tanya nilai matematikanya. Mereka sukses karena fokus pada apa yang mereka cintai.”

Kesuksesan tak membuatnya lupa diri. Ia mewujudkan mimpinya: toko buku murah, perpustakaan besar terbuka untuk umum, rumah menulis lima lantai, pelatihan gratis, sekolah dan perguruan tinggi gratis, masjid, dan rumah makan gratis.

Karena ia tahu rasanya lapar.
Ia tahu rasanya tak punya apa-apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *