“Raka,” suaranya bergetar, “susu anak kita habis.”
Raka menatap dompetnya. Kosong.
Ia tak sanggup mengangkat kepala.
“Kamu tahu nggak,” suara Sari meninggi, “rasanya jadi ibu yang nggak bisa kasih susu ke anaknya sendiri?”
Raka terdiam.
“Kamu duduk depan laptop dari pagi sampai malam,” lanjut Sari, air matanya jatuh, “tapi apa hasilnya? Tetangga kita bisa beli kulkas, motor, apa saja! Kamu? Masih sibuk sama tulisan!”
“Aku lagi berusaha, Ri…” suara Raka hampir tak terdengar.
“Berusaha?” Sari tertawa pahit. “Tulisanmu nggak bisa dimakan, Ka! Anak kita butuh susu, bukan kata-kata!”
Kalimat itu menghantam Raka seperti pukulan telak. Dadanya sesak. Malam itu ia keluar rumah, duduk di teras, menatap gelap, bertanya pada dirinya sendiri: apa aku egois?
Hari-hari setelah itu penuh pertengkaran. Sari sering mengomel. Raka sering diam. Ia pernah hampir menyerah. Pernah berpikir untuk berhenti menulis, mencari pekerjaan apa saja.
Namun setiap kali ia hendak menyerah, ia teringat buku-buku berlumpur itu. Ia teringat dirinya kecil, berdiri di depan toko buku, bermimpi tanpa siapa pun yang percaya.