Ia terduduk di lantai.
Tangisnya pecah.
Bukan karena barang, melainkan karena cahaya yang padam.
Di sekolah, kemiskinan membuatnya sering dipermalukan. Ia pernah dihukum berdiri di depan kelas karena tak membawa tas, buku, dan pulpen.
“Kamu ini malas!” kata gurunya.
Raka menunduk. Ia ingin berkata bahwa ia miskin, bukan malas. Tapi kata-kata itu tertelan.
Ia juga bukan murid pintar. Nilai matematikanya sering merah. Ibunya marah setiap menerima rapor.
“Kamu ini kenapa sih? Matematika terus merah! Kamu mau jadi apa?” bentaknya.
Raka diam. Ia tahu kelemahannya. Tapi ia mencintai Bahasa Indonesia. Ia mencintai kata-kata. Ironisnya, saat ia mendaftar ke perguruan tinggi negeri jurusan Bahasa Indonesia, ia tidak diterima.
Hari itu, ia pulang membawa satu kegagalan lagi.
Namun luka terdalam datang setelah ia menikah.
Raka memilih menulis sebagai jalan hidup. Dan di sanalah rumah tangganya diuji sampai hampir runtuh.
Suatu malam, Sari berdiri di dapur dengan wajah pucat. Di tangannya, kaleng susu kosong.