Percaya diri adalah bekal penting bagi penulis pemula, meski kepercayaan diri itu sering kali lahir berdampingan dengan keraguan. Hampir semua penulis besar pernah meragukan setiap paragraf yang mereka tulis. Mereka pernah merasa tulisannya biasa saja, bahkan gagal. Namun yang membedakan mereka dengan yang berhenti di tengah jalan adalah keberanian untuk bangkit dan mencoba lagi.
Stephen King menulis, “Amateurs sit and wait for inspiration, the rest of us just get up and go to work.” Inspirasi, pada akhirnya, sering kali datang setelah kita mulai menulis—bukan sebelumnya. Produktivitas bukan musuh kualitas; ia justru jalan menuju kematangan.
Di Indonesia, Goenawan Mohamad pernah menyampaikan bahwa menulis adalah kerja sunyi yang panjang. Kerja yang sering kali tidak langsung dipuji, tidak segera dipahami, tetapi perlahan membentuk makna. Dalam kesunyian itulah seorang penulis belajar rendah hati sekaligus teguh.
Banyak penulis baru dikenal justru setelah ia wafat. Buku dan tulisannya terus hidup, menembus waktu, menyentuh pembaca yang bahkan tidak pernah mengenalnya secara langsung. Di titik itu, nama mungkin menjadi sekunder. Yang utama adalah dampak: gagasan yang menggerakkan, kalimat yang menguatkan, cerita yang menyadarkan.