
Ada jenis penulis yang bekerja tanpa suara. Ia tidak sibuk mengumumkan diri, tidak berteriak tentang rencana bukunya, tidak pula merasa perlu memamerkan proses kreatifnya ke mana-mana. Ia menulis dengan tenang—kadang di sudut meja yang sama, di jam yang hampir serupa, dengan gelas kopi yang mungkin sudah dingin. Diam-diam, tapi konsisten.
Seorang penulis sejatinya tidak diukur dari seberapa lantang ia berbicara tentang tulisannya, melainkan seberapa setia ia kembali ke halaman kosong. Kata-kata tidak membutuhkan koar-koar; mereka hanya meminta kejujuran dan ketekunan. Dalam dunia yang serba cepat dan bising, sikap diam justru sering kali menjadi kekuatan terbesar penulis.
Menjaga konsistensi dan disiplin dalam menulis bukan perkara bakat semata, melainkan keputusan yang diulang setiap hari. Disiplin bukan berarti menunggu suasana hati datang dengan ramah. Ia justru lahir dari keberanian duduk dan menulis meski ragu, meski lelah, meski tidak yakin apakah tulisan hari ini akan bagus atau tidak. Banyak penulis gagal bukan karena kurang ide, tetapi karena terlalu lama menunggu momen sempurna yang tak pernah benar-benar hadir.